Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
.
من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه
.
“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).
.
Fawaid hadits:
.
• Keutamaan dakwah di jalan Allah dan menunjukkan kebaikan kepada orang lain, baik kebaikan dunia atau akhirat
• Orang yang menunjukkan kebaikan maka akan mendapatkan pahala karena telah menunjukkan kebaikan serta pahala orang yang mengikutinya.
• Amal yang bisa dirasakan oleh orang lain lebih besar manfaatnya dibandingkan amal yang manfaatnya terbatas untuk diri sendiri.
• Hadits ini mencakup orang yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain dengan perbuatannya, meskipun tidak dengan lisannya. Seperti orang yang menyebarkan buku-buku yang bermanfaat, berakhlak mulia dan berpegang teguh dengan syariat Islam agar manusia juga bisa meneladaninya.
• Keutamaan mengajarkan ilmu dan besarnya pahala seorang pengajar yang mengharapkan pahala di akhirat.
• Dianjurkan seseorang untuk meminta kepada Allah agar menjadi teladan dalam kebaikan.
.
Wallahua’lam
.
Perbedaan Dosa Makan Babi Dan Riba
Makan daging babi hukum asalnya haram. Namun, dibolehkan (bukan wajib – tdk ada pilihan makanan halal lainnya) jika dlm keadaan darurat.
.
~
.
(QS. Al Baqarah 173)
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi & binatang yg (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Ttapi barangsiapa dlm keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tdk menginginkannya & tdk (pula) melampaui batas, maka tdk ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
.
~
.
(QS. Al Maidah 3)
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yg disembelih atas nama selain Allah, yg tercekik, yg terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, & diterkam binatang buas, kecuali yg sempat kamu menyembelihnya, & (diharamkan bagimu) yang disembelih utk berhala..”
.
~
.
(QS. Al An am 145)
Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yg diwahyukan kepadaku, sesuatu yg diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yg mengalir atau daging babi — karena sesungguhnya semua itu kotor -atau binatang yg disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yg dlm keadaan terpaksa, sedang dia tdk menginginkannya & tidak (pula) melampaui batas, mk sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
.
~
.
(QS. An Nahl 115)
“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi & apa yg disembelih dgn menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yg terpaksa memakannya dgn tdkk menganiaya & tdk pula melampaui batas, mk sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
.
~
.
Ada 4 dalil dalam Al Quran yang membolehkan daging babi dalam keadaan darurat..
Tapi tdk ada satu dalilpun yg membolehkan RIBA walaupun dlm keadaan darurat..
.
(Jika ada yg membolehkan riba jika darurat, dalil nya mana..??)
Shalatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq
Beginilah Shalat Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu
Beliau radhiyallahu ‘anhu termasuk kalangan orang-orang shalih, sekaligus salah satu dari sahabat utama yang dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, imam yang utama dari sejumlah sahabat yang lainnya.
Beliau telah menghabiskan hidup dan segenap jiwa raganya, harta kekayaannya serta waktunya untuk diinfakkan dan berjihad di jalan Allah. Termasuk memberikan pelayanan dalam dakwah dan penyampaian wahyu.
Dialah sahabat Abu Bakar yang nama lengkapnya Abdullah bin Abi Quhafah Al Qurasyi At Tamimi yang terkenal dengan sebutan Abu Bakar Asy Syiddiq.
Beliau sangat mudah mencucurkan air mata saat membaca Al Quran dalam shalatnya. Hal ini disebabkan karena banyaknya pengalaman hidup beliau bersama Al Quran. Sehingga beliau tidak mampu menahan perasaannya dari kejadian kejadian yang pernah dialaminya ketika membaca Al Quran.
Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Mereka melalui Abu Bakar yang sedang shalat bersama dengan yang lainnya.” Aisyah menuturkan, Saya pun berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Wahai Rasulullah, sesungguhnyaAbu Bakar adalah seorang laki laki yang lembut hatinya, apabila telah membaca Al Quran beliau tidak mampu menahan cucuran air mata dari keduanya.” (HR Muslim)
Adapun kekhusyukan beliau serta tangisan beliau di dalam shalat, benar-benar berpengaruh besar kepada orang-orang di sekelilingnya.Hal ini menyebabkan orang-orang Quraisy yang menguasai Mekah pada waktu itu mengajukan sejumlah syarat kepada beliau ketika beliau menunaikan shalat.
Akhirnya kaum kafir Quraisy menemui Ibnu Ad Daghinah yang saat itu memberikan jaminan keamana kepada Abu BakarAsh Shiddiq. Mereka berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Ad Daghinah, suruhlah Abu Bakar untuk beribadah kepada Rabbnya di rumahnya, hendaklah dia shalat dan membaca apa yang dia kehendaki dan janganlah dia menyakiti kami. Sesungguhnya kami khawatir perkara itu menjadi fitnah bagi anak dan istri kami.”
Ibnu Ad Daghinah pun mengatakan hal itu kepada Abu Bakar, sehingga beliau mulai beribadah kepada Allah di rumahnya, dengan tidak mengeraskan shalatnya begitupun dengan bacaannya.
Kemudian Abu Bakar mulai membangun sebuah masjid di halaman rumahnya, beliau shalat dan membaca Al Quran di masjid itu. Pada saat itu, berkumpullah istri-istri dari kalangan orang musyrik dan anak-anak mereka, mereka begitu kagum akan shalat yang didirikan Abu Bakar dengan terus memperhatikannya. Abu Bakar adalah seorang laki laki yang sering menangis, beliau tidak bisa menahan air matanya ketika membaca AL Quran (Kisah ini diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Ibnu Hiban)
Sahl bin Sa’d dia berkata, “Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu tidak pernah melirik ketika dalam shalat.” (Fadhail Ash Shahabat I/208, Imam Ahmad)
Mujahis menuturkan, “Keadaan Ibnu Az Zubair ketika dia berdiri menunaikan shalat, seperti sebuah kayu yang kokoh (tidak bergerak).” Dikisahkan pula bahwa Abu Bakar pun seperti itu ketika shalat. Abdurrazaq berkata, “Penduduk Mekah menuturkan bahwa Ibnu Zubair mencontohshalat dari Abu Bakar, dan Abu Bakar mencontohnya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Fadhail Ash Shahabat I/208, Imam Ahmad)
Istri Cantik Nabi Mariyah al-Qibthiyah
Mariyah binti Syam’un al-Qibthiyah adalah seorang wanita yang berasal dari Mesir. Pada tahun 7 H, Raja Iskandariyah (Mesir), Muqauqis, mengirim Mariyah untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sahabat Hatib bin Abi Balta’ah lah yang menjaganya dalam perjalanan menuju Madinah. Saat bertemu Nabi, ia memeluk Islam.
Memeluk Islam
Pada tahun ke-6 H, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendakwahi raja-raja. Beliau mengirimi mereka surat. Mengajak mereka memeluk Islam. Di antara raja yang mendapatkan surat tersebut adalah Muqauqis, Raja Iskandariyah Mesir. Sebagai respon atas surat tersebut, Muqauqis memberikan pemberian yang banyak kepada Nabi. Di antaranya adalah Mariyah dan saudari perempuannya yang bernama Sirin. Juga termasuk Khasi, saudara laki-laki Mariya. Ia juga menghadiahi nabi banyak emas. 20 helai baju yang lembut. Seekor bighal dan keledai. Hadiah-hadiah itu dititipkan kepada sahabat Hatib bin Abi Balta’ah radhiallahu ‘anhu.
Hatib mendakwahi Mariyah, Sirin, dan Khasi. Mariyah tertarik dengan Islam. Sirin langsung memeluk agama yang mulia ini. Sementara Khasi ia tetap berada di atas agamanya baru sesampainya di Madinah, ia memeluk Islam.
Dari sini kita dapat pelajaran, kebanyakan orang-orang non Islam tidak memeluk Islam karena tidak mengetahui Islam. Atau mereka mendapat informasi yang salah tentang Islam. Seharusnya umat Islam tidak takut dan menunda untuk berdakwah. Mengenalkan agama ini kepada orang-orang non Islam. Mereka berhak mengetahui kebenaran. Agar mereka mendapatkan pilihan dan memilih jalan yang terbaik untuk kehiduapan mereka. Artinya, setiap muslim wajib membekali diri dengan pengetahuan agama.
Kita juga mengetahui mengapa Rasulullah melarang seseorang tinggal di negeri kafir. Karena di sana, informasi terhadap agama Islam sangat minim. Sementara kerancuan pemikiran terhadap Islam sangat besar. Ketimpangan berita ini bisa membahayakan keimanan seorang muslim.
Bersama Rasulullah
Mariyah adalah seorang wanita kulit putih yang cantik. Namun ia tidak termasuk ummul mukminin. Pada Bulan Dzul Hijjah tahun 8 H, Mariyah melahirkan putra Rasulullah dan dinamai Ibrahim. Istri-istri Nabi pun merasa cemburu padanya.
Dengan kelahiran Ibrahim, Mariyah menjadi wanita yang merdeka. Ibnu Abbas berkata, “Saat Mariyah melahirkan, Rasulullah bersabda, ‘Ia dimerdekakan oleh anaknya’.” Ibrahim hidup selama setahun beberapa bulan dalam perhatian Rasulullah. Sebelum genap berusia dua tahun, Ibrahim sakit. Kemudian wafat saat ia baru berusia 18 bulan. Ia wafat pada tahun 10 H, hari Selasa saat bulan Rabiul Awal baru beberapa hari berjalan. Mariyah pun sangat bersedih dengan kepergian putranya itu.
Untuk memahami bagaimana kedudukan Mariyah, kita bisa simak ucapan Ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha, “Aku tidak pernah cemburu kepada wanita-wanita bersama Nabi sebagaimana rasa cemburuku pada Mariyah. Karena ia wanita yang sangat cantik dan rambutnya bergelombang. Rasulullah sangat tertarik dengannya. Saat pertama tiba, beliau tempatkan Mariyah di rumah Haritsah bin an-Nu’man sehingga menjadi tetangga bagi kami. Siang dan malam Rasulullah bersamanya sampai kami luangkan waktu untuk memperhatikannya agar ia tidak betah. Lalu Nabi memindahkannya ke daerah yang lebih tinggi. Beliau sering menemuinya di sana. Itulah yang paling berat bagi kami.”
Wafat
Mariyah wafat di bulan Muharam tahun 16 H. Umar bin al-Khattab mengumpulkan orang untuk menyalatkannya. Dan ia dimakamkan di Pemakaman Baqi’. Ibnu Mandah mengatakan, “Mariyah wafat 5 tahun setelah Nabi wafat. Radhiallahu ‘anha wa askanahu fasiha jannatih.
Kisah Istimewa Sahabat
Awalnya, beliau radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang sangat membenci Islam, sehingga meskipun semua kaumnya dari Bani Ashal sudah memeluk Islam, beliau radhiyallahu ‘anhu tetap dalam pendiriannya, tidak mau memeluk Islam. Ketika perang Uhud berkobar, dia mencari beberapa teman yang dikenalnya di tempat tinggal mereka, namun tidak dia tidak berhasil, karena para shahabat yang dicari semuanya ikut perang Uhud. Beliau radhiyallahu ‘anhu bergegas kembali ke rumah, mengenakan baju besinya lalu memacu kudanya ke arah bukit Uhud. Saat kaum Muslimin melihat kedatangannya, mereka serta merta menghalaunya, “Wahai Amr, menjauhlah dari kami!” Amr menjawab, “Aku telah beriman.” Beliau radhiyallahu ‘anhu terus maju ke medan tempur. Dalam pertempuran tersebut (ia) mengalami luka-luka. Ketika peperangan usai, para shahabat Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam mengantarkannya ke rumah keluarganya dalam keadaan tubuh penuh luka. Sa’d bin Mu’adz mendatanginya dan mengatakan kepada saudarinya,
سَلِيهِ حَمِيَّةً لِقَوْمِكَ أَوْ غَضَبًا لَهُمْ أَمْ غَضَبًا لِلَّهِ فَقَالَ بَلْ غَضَبًا لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ
Tolong tanyakan kepadanya, (apakah dia melakukan ini) demi membela kaumnya, marah karena mereka ataukah marah karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala? Amr menjawab, “Marah karena Allâh dan Rasul-Nya.”
Akhirnya karena luka yang teramat parah, beliau radhiyallahu ‘anhu meninggal dan masuk surga, padahal beliau radhiyallahu ‘anhu belum pernah menunaikan shalat meskipun sekali.
(H.R. Ibnu Ishaaq dengan sanad hasan, Ibnu Hisyaam (3/131). Lihat al Ishaabah, 2/519 dan diriwayatkan oleh Abu Dâwud, no. 2537; Juga diriwayatkan oleh al Hâkim dan beliau rahimahullah menyatakan hadits ini shahih dan penilaian beliau ini dibenarkan oleh adz-Dzahabi. Syaikh al-Albâni juga menilai hadits ini hasan, dalam Shahih Sunan Abi Dâud)
Menjadi Penghuni Surga Yang Kekal
Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.
Esok harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.
Besok harinya lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!!’ Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal .
Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki tersebut, lalu ia berkata kepada lelaki tersebut, ‘Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku, aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.’
Dia menjawab, ‘Silahkan!’
Anas berkata bahwa Amr bin Ash setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang qiyamul lail, hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang subuh. Kemudian mengambil air wudhu.
Abdullah juga mengatakan, ‘Saya tidak mendengar ia berbicara, kecuali yang baik.’
Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap remeh amalnya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.’ Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau.
Terang saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?’
Kemudian lelaki Anshar itu menjawab, ‘Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.’
Abdullah bin Amr berkata, ‘Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya’.”
Panen Pahala Karena Sholawat
SATU SHOLAWAT ALLAH BALAS SEPULUH
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim, no. 408)
.
Maksud dari kalimat Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali : Allah akan memberikan ia rahmat dan akan dilipatgandakannya karena setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh yang semisalnya. (Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 4: 116).
. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.” (QS. Al-An’am: 160)
.
Saudaraku, basahilah lisan kita untuk selalu bersholawat, Karena menggerakkan lisan tidaklah letih, tidak mengeluarkan tenaga dan begitu mudah dikerjakan.
.
Saudaraku, dengan bersholawat dapat menghilangkan sifat bakhil/pelit pada diri kita, Kususnya apabila disebutkan nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda Beliau ;
.
الْبَخِيلُ الَّذِى مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ
. “Orang yang disebut pelit adalah orang yang ketika disebut namaku di sisinya lalu ia tidak bershalawat untukku.” (HR. Tirmidzi no.3546).
.
Semoga bermanfaat, Barakallah fiikum
Pelajaran Abdullah bin Salam Dan Al-Urwatul Wutsqa
Kisah Abdullah bin Salam dan Al-Urwatul Wutsqa
Qais bin Ibad radhiallahu ‘anhu berkata, “Ketika aku duduk di dalam masjid Madinah, tiba-tiba masuk seorang lelaki dari raut wajahnya terpancar keteduhan. Para sahabat yang berada di masjid berkata, ‘Orang itu termasuk penghuni Surga.’ Kemudian dia mengerjakan shalat dua rakaat lalu keluar masjid.
Aku mengikuti langkahnya dan bertanya, ‘Ketika engkau masuk masjid tadi, orang-orang berkata, Inilah orang yang termasuk penghuni Surga!’ Dia berkata, ‘Subhanallah,’ Tidak pantas seseorang mengatakan sesuatu yang tidak diketahui, akan aku beritahukan kepadamu bagaimana sebenarnya.
Ketika itu, pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, aku pernah bermimpi, kemudian mimpi itu aku ceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Seolah-olah aku berada di tengah-tengah taman, aku sebutkan seberapa luasnya dan bagaimana suburnya, di tengah taman itu terdapat beberapa tiang terbuat dari besi pangkalnya menancap kuat di dalam bumi dan ujungnya tinggi di langit. Di ujung besi tersebut terdapat tali, tali itu berkata kepadaku, ‘Naiklah kamu!’ Aku jawab, ‘Aku tidak bisa memanjat.’ Kemudian aku singsingkan bajuku dari arah belakang, lalu aku memanjat sehingga aku mencapai bagian paling atas, aku bisa mengambil tali itu. Tali itu berkata lagi kepadaku, ‘Pegangi kuat-kuat.’
Tiba-tiba aku terbangun. Maka mimpiku itu aku ceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Selanjutnya beliau bersabda, ‘Yang dimaksud dengan taman adalah al-Islam, sedang tiang-tiangnya adalah sendi-sendi Islam. Tali yang dimaksud adalah al-Urwatul Wutsqa (laa ilaha illallah). Sungguh kamu tetap dalam keadaan Islam sehingga kematian menjemputmu’.”
Kisah Salamah bin al-Akwa Prajurit Angkatan Darat Terbaik
Salamah bin al-Akwa’ bukanlah seorang sahabat yang masyhur. Banyak orang tak mengenalnya. Padahal dia adalah sahabat yang mulia. Salah seorang sahabat yang berbaiat di bawah pohon, yang Allah berfirman tentang mereka,
لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon…” [Quran Fath: 18].
Dia juga seorang pahlawan pemberani yang memiliki lari yang sangat cepat. Dan sebab masuk Islamnya terbilang unik. Karena seekor hewan buas berbicara dengannya dan mengenalkannya dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana kisah tentang Salamah bin al-Akwa’ mari kita simak tulisan berikut ini.
Nasab
Ulama ahli hadits menyebutnya dengan nama Salamah bin al-Akwa’. Walaupun al-Akwa’ bukanlah nama ayahnya, tapi nama kakeknya. Namanya adalah Salamah bin Amr bin al-Akwa’. Akwa’ sendiri bernama Sinan bin Abdullah bin Qusyair bin Khuzaimah. Salamah tinggal di Rabdzah.
Sebab Keislamannya
Dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Ada seekor serigala menyerang kambing. Kemudian ia seret buruannya itu. Si pengembala kambing mengejar serigala itu dan berhasil merampas kambing dari cengkramannya. Serigala duduk dengan sisi perutnya, ia berkata, ‘Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah! Engkau rampas itu dariku. Sebuah rezeki yang telah Allah berikan padaku’. Pengembala itu kaget, ‘Luar biasa. Seekor serigala yang duduk dengan sisi perutnya berbicara denganku dengan ucapan manusia!’ Serigala menimpali, ‘Mauhkah kau kuberitahu tentang sesuatu yang lebih luar biasa dari ini? Muhammad di Yatsrib (nama Kota Madinah dahulu). Dia mengabarkan pada manusia tentang umat terdahulu’. Pengembala itu membawa kambingnya dan bergegas menuju Madinah. Ia sisir Kota Madinah dari pojok satu ke pojok lainnya. Sampai akhirnya ia berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia kabarkan apa yang terjadi padanya. Rasulullah (belum menanggapi) memerintahkan shalat untuk ditegakkan. Seusai shalat, beliau temui seorang Arab desa ini dan membenarkan kabar yang ia sampaikan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَدَقَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُكَلِّمَ السِّبَاعُ الْإِنْسَ، وَيُكَلِّمَ الرَّجُلَ عَذَبَةُ سَوْطِهِ، وَشِرَاكُ نَعْلِهِ، وَيُخْبِرَهُ فَخِذُهُ بِمَا أَحْدَثَ أَهْلُهُ بَعْدَهُ
“Benar apa yang dikatakan oleh si Yahudi ini. Demi Allah, Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kiamat tidak akan terjadi sampai binatang buas bisa berbicara dengan manusia dan ujung cambuk seseorang bisa bercerita kepada pemiliknya, demikian pula tali sandal seseorang, juga pahanya (bisa menceritakan) apa yang dilakukan istrinya setelah kepergiannya.”
Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad (3: 83-84). Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata, “Sanad hadits ini shahih, para perawinya adalah perawi tsiqah, yaitu para perawi Muslim kecuali Al-Qasim. Dia ini tsiqah dengan sepakat ulama, dan dipakai riwayatnya oleh Muslim dalam muqaddimah (Shahih Muslim)” (Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahihah, 1/31).
Ibnu Saad menyebutkan bahwa kisah ini adalah kisahnya Salamah bin al-Akwa’ radhiallahu ‘anhu. Walaupun pernyataan Ibnu Saad ini disanggah oleh Ibnu Abdil Bar dalam al-Isti’ab. Ia menyebutkan bahwa Ibnu Saad tidak menyebutkan rawi dari kisah ini. Sehingga kisah ini tidak bisa disandarkan pada Salamah bin al-Akwa’.
Terkenal dengan Keberaniannya
Di antara karakter Salamah bin al-Akwa’ yang paling menonjol adalah pemberani. Keberaniannya begitu kentara di Perang Dzi Qard. Suatu hari Salamah berhasil mengagalkan perampokan onta-onta Rasulullah yang dilakukan oleh orang-orang Fazarah. Abdurrahman bin Uyainah al- Fazari dan gerombolannya merampas onta Rasulullah. Ia mencuri onta Nabi dan membunuh penggembalanya. Kemudian ia pergi bersama beberapa penunggang kuda.
Saat kejadian itu, qadarullah ada Salamah sedang berjalan sendirian sambil membawa anak panahnya. Ia melihat kejadian itu. Ia menghadap ke arah Madinah dan berteriak, “Ya shabahah! Ya shabahah! Ya shabahah!” Maksudnya memberi tahu tentang perampokan itu. Kemudian ia kejar sekelompok orang tersebut seorang diri. Ia hujani mereka dengan anak panah sehingga mereka menyangka sedang menghadapi sejumlah pasukan. Saat mereka menoleh, ia bersembunyi di balik pohon. Sambil terus menyerang mereka hingga kuda-kuda mereka terluka… (Ibnu Saad: ath-Thabaqat al-Kubra, 2/81)
Cintanya Pada Nabi
Suatu hari Salamah menunaikan shalat sunnah dhuha. Ia bersandar di salah satu tiang Masjid Nabawi. Kemudian shalat di dekatnya. Kemudian aku (periwayat) berkata, “Mengapa kau tak shalat di sini saja?” sambil menunjuk salah satu sudut masjid. Salamah menjawab, “Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di tempat ini.” (HR. Ibnu Majah dalam Sunannya 1430, 1/459. Al-Albani mengomentari bahwa hadits ini shahih).
Perhatikanlah! Bagaimana para sahabat sangat memperhatikan gerak-gerik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meneladani setiap detil perbuatan Nabi adalah kebahagiaan bagi mereka.
Salamah Bersama Rasulullah
Yazid bin Abu Ubaid berkata, “Aku melihat bekas lebam pada Salamah. Kemudian kutanyakan padanya, ‘Hai Abu Muslim, bekas lebam karena apa ini?’” Ia menjawab, “Ini adalah bekas lebam sewaktu di Perang Khaibar.” Orang-orang mengatakan, “Salamah terluka. Kemudian ia dihadapkan pada Nabi. Beliau meludah tipis sebanyak tiga kali pada lukanya. Sejak itu aku tak lagi merasa sakit hingga sekarang ini.” (HR. Abu Dawud 3896).
Salamah bin al-Akwa’ mengatakan, “Aku berbaiat di bawah pohon kepada Rasulullah di hari Perjanjian Hudaibiyah. Saat orang-orang telah selesai, beliau bersabda, ‘Hai Ibnu al-Akwa’ tidakkah engkau mau berbaiat?’ Kujawab, ‘Aku sudah melakuannya, Rasulullah’. Rasulullah bersabda, ‘Lakukan lagi’. Aku pun membaiat beliau untuk kedua kalinya.” Periwayat bertanya kepada Salamah, “Hai Abu Muslim, untuk tujuan apa kalian berbaiat saat itu?” Ia menjawab, “Untuk rela mati.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Jihad dan as-Sair, 2800).
Baiat ini dinamakan Baiat Ridhwan. Karena Allah meridhai orang-orang yang turut berbaiat saat itu. Allah Ta’ala berfirman,
لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” [Quran Al-Fath: 18].
Di baiat yang pesertanya Allah ridhai ini, Salamah bin al-Akwa’ berbaiat dua kali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadits Yang Diriwayatkan Salamah
Di antara hadits-hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Salamah bin al-Akwa’ adalah:
Pertama: Hadits tentang pengangkatan Ali sebagai pemegang bendera saat hendak menyerbu Khaibar.
Kedua: hadits tentang makan dengan tangan kanan.
Dari Salamah bin al-Akwa’, ada seseorang yang makan bersama Rasulullah. Orang itu makan dengan tangan kiri. Rasulullah menegurnya,
كل بيمينك
“Makanlah dengan tangan kananmu.”
Orang itu menjawab, “Aku tak mampu.”
Rasulullah bersabda,
لا استطعت، ما منعه إلا الكبر
“Engkau benar-benar tak akan mampu. Yang menghalangimu melakukannya adalah kesombongan.”
Salamah berkata, “Orang itu benar-benar tak bisa lagi mengangkat tangannya ke mulutnya.” (HR. Muslim Bab Adab ath-Tha’am wa asy-Syarab wa Ahkamuha 5387).
Wafatnya
Salamah bin al-Akwa’ wafat di Kota Madinah pada tahun 74 H. Saat itu ia berusia 80 tahun (Riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak 6383). Semoga Allah meridhai sahabat yang mulia ini.
Hukum Main Musik Rebana
HUKUM MEMAINKAN ALAT MUSIK REBANA
.
Guru kami, Syaikh Sa’ad bin Turkiy Al Khotslan mendapat pertanyaan:
.
“Kami berharap dari engkau wahai Syaikh penjelasan mengenai hukum duff (rebana). Kapan dibolehkan? Apakah duff boleh dimainkan oleh laki-laki dan perempuan? Apakah ada perbedaan antara hukum memainkan dan mendengarnya?”
.
Jawab beliau hafizhohullah:
.
Perlu diketahui bahwa hukum asal duff termasuk alat musik. Mengenai duff diterangkan dalam hadits shahihain (Bukhari-Muslim) pada kisah dua budak wanita yang memukul duff di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas ketika itu Abu Bakr datang dan bersikap keras, “Apakah alat musik setan di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Biar mereka berdua wahai Abu Bakr. Sesungguhnya setiap umat memiliki hari raya. Dan sekarang adalah hari raya kita umat Islam.”
.
Dalam hadits ini, jelas Abu Bakr menganggap duff sebagai alat musik setan.
.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membenarkannya dengan mendiamkannya. Dan jika kita paham, maka yang diceritakan dalam hadits ini adalah pengecualian kasus dan perbedaan keadaan karena saat ‘ied, yaitu kaum muslimin berhari raya. Juga ada pengecualian tambahan yang bisa dirinci sebagai berikut:
.
1- Alat musik yang dibolehkan hanyalah rebana (duff).
.
2- Dimainkan saat walimah pernikahan yang khusus bagi wanita, hal ini dibolehkan secara ijma’ (menurut kata sepakat ulama).
.
3- Dimainkan saat datangnya orang yang beberapa waktu tidak terlihat (ghoib) seperti pada kisah wanita yang bernadzar akan memukul rebana di sisi Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– jika Allah mengembalikan orang yang hilang dalam keadaan selamat. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Tunaikanlah nadzarmu.”
.
4- Dimainkan saat perang. Untuk kondisi ini tidak dibutuhkan untuk saat ini.
.
Selain kondisi-kondisi di atas, maka tetap pada hukum asal yaitu alat musik haram.









